Drum adalah kelompok alat musik perkusi yang terdiri dari kulit yang direntangkan dan dipukul dengan tangan atau sebuah batang. Selain kulit, drum juga digunakan dari bahan lain, misalnya plastik. Drum terdapat di seluruh dunia dan memiliki banyak jenis, misalnya kendang, timpani, Bodhrán, Ashiko, snare drum, bass drum, tom-tom, beduk, dan lain-lain.

Iklan

Drum sebenarnya bermacam-macam. Ada snare, tom-tom, bass, conga, tymbal, mondo, bedug, tabla… dll, mereka sebenarnya adalah drum, karena memainkannya dengan cara dipukul. Tetapi yang kita bahas adalah DRUMSET, yang bisa dibilang bentuk drum paling modern. Drumset itu sendiri sebenarnya terdiri atas 3 drum, yaitu Snare, tom-tom dan bass drum. Untuk tom-tom masih dapat dibagi dua lagi, yaitu: Mounted tom dan floor tom-tom (tergantung dari peletakan dan diameter saja). Dari ketiga unsur tersebut masih ada beberapa unsur penting lagi, yaitu cymbal, hardware (pedal, hihat stand, cymbal stand, snare stand, tom holder/tom stand) dan drumhead.

Tom-tom terdiri atas berbagai macam ukuran baik dalam kedalamannya dan diameternya. Ukuran suatu drum biasnya ditulis 12×10 yang maksudnya adalah kedalamannya 12 inchi dan diameternya 10 inchi. Diameter tom-tom bervariasi, biasanya tom-tom paling kecil berdiameter 6″, dan berlanjut ke 8″, 10″, 12″, 13″, 14″, 15″, 16″, 18″ dan 20″. Ukuran tom-tom 14″ keatas dapat digolongkan sebagai floor tom-tom, tetapi tergantung dari peletakannya juga. Tom-tom menggunakan 2 drumhead, atas dan bawah, kecuali pada tahun 70-an dimana tom-dan bass drum hanya menggunakan 1 drumhead saja, dan suaranya jelek sekali. Badan tom-tom atau yang biasa disebut dengan shell terbuat dari kayu. Untuk drum kelas pemula biasanya menggunakan kayu Mahogany dan untuk kelas professional biasanya menggunakan kayu Birch dan Maple. Kayu Birch dan Maple lebih mahal karena menghasilkan suara atau tone yang bulat dan jernih. Kayu pada tom-tom biasanya mempunyai ketebalan dari 4 sampai 10 mm. Semakin tipis kayu maka suara yang dihasilkan semakin kaya dan sensitive. Sedangkan semakin tebal kayu suara yang dihasilkan semakin keras, tetapi suaranya tidak terlalu kaya dan kurang sensitive.

Bass drum tidak terlalu berbeda dengan tom-tom, hanya bass drum mempunyai diameter yang lebih besar, 16″, 18″, 20″, 22″, 24″ dan bahkan 26″ atau lebih. Dan bass drum dipukul dengan menggunakan pedal dan ditaruh dibawah. Tetapi suara bass drum tidak seperti tom-tom yang bersuara “Dung…” tetapi cenderung bersuara “Dug…” (lebih mati suaranya). Kayu bass drum cenderung lebih tebal untuk menghasilkan suara yang lebih keras dan untuk ketahanan drum itu sendiri.

Snare drum adalah drum yang paling berbeda diantara lainnya (dari bentuk dan suaranya). Dan snare drum merupakan unsur utama dari drumset (yang paling sering dipukul). Drum ini biasanya berukuran 10″ sampai 15″, tetapi yang paling biasa digunakan adalah ukuran 14″. Yang membuat perbedaan pada snare drum yaitu pada bagian bawah drum tersebut. Di bawahnya menggunakan kawat-kawat yang berbentuk spiral atau yang sebenarnya dinamakan Snare Wire /Strainer. Benda itulah yang membuat perbedaan pada snare drum. Jika anda memukul head atasnya maka snare wire dibawah segera merespon, dengan cara ‘memukul’ kembali head bawah dan menghasilkan suara yang tajam. Maka dari itu, sebenarnya ‘nyawa’ dari snare drum terletak pada snare wirenya. Jika snare wirenya dilepas maka suara yang dihasilkan hampir sama dengan tom-tom.

Cymbal, lagi-lagi merupakan ‘nyawa’ bagi drumset, karena hampir tidak mungkin bermain drum tanpa cymbal (ibaratnya seperti makan nasi tanpa nasi, nggak makan donk…). Cymbal terdiri atas 4 jenis mereka yaitu:

1. Hihat cymbal:
‘Jantungnya’ cymbal dan drum. Berguna untuk menjaga waktu/tempo. terdiri atas sepasang cymbal. berukuran 8″ sampai 15″. Ukuran standart 14″

2. Ride cymbal:
Sama fungsinya dengan hihat tetapi dengan bentuk dan suara yang berbeda. Hanya terdiri dari satu cymbal tetapi berukuran besar 18″ sampai 22″. ukuran standar 20″

3. Crash cymbal:
Berguna untuk memberi phrase/nada pada suatu lagu. Berukuran 13″ sampai 22″ tergantung dari selera pemain.

4. Efek cymbal:
Efek cymbal terdiri atas Splash, bell, china dan swiss. Berguna untuk memberi ‘warna’ khusus pada suatu lagu. Splash dan bell biasanya berukuran 6″ sampai 12″ dan untuk china dan swiss biasanya berukuran 16″ sampai 22″.

Hardware terdiri atas berbagai macam bentuk dan fungsi:

1. Pedal:
Berguna untuk memukul bass drum, juga tersedia double pedal, yaitu pedal yang menggunakan 2 pedal dan 2 pemukul atau beater untuk mendapatkan suara yang lebih pada bass drum.

2. Hihat stand:
Untuk menempatkan hihat cymbal yang terdiri atas 2 buah cymbal sehingga anda dapat membuka dan menutup kedua cymbal itu dengan kaki kiri anda.

3. Cymbal stand:
Untuk menempatkan segala macam jenis cymbal kecuali hihat.

4. Snare stand:
Untuk menempatkan Snare drum dan anda dapat merubah posisinya sesuka anda.

5. Tom holder/tom stand:
Berguna untuk memasang tom-tom.

Drumhead mempunyai ukuran, type, fungsi dan ketebalan yang berbeda. Drumhead terdiri atas 3 bagian; Pertama Batter head, yaitu drumhead yang dirancang khusus untuk dipukul. Kedua, Resonant hanya ditaruh pada bagian bawah tom-tom dan bagian depan bass drum. Head ini tidak untuk dipukul, head ini berguna untuk memberi ‘hidup’ pada tom-tom dan bass drum. Dan terakhir adalah snare side, khusus hanya untuk ditaruh dibagian bawah snare untuk mendapatkan suara snare wirenya. Snare side merupakan head yang paling tipis. Ingat, tidak untuk dipukul.

SOLDIERcame marching along the high road: “Left, right—left, right.” He had his knapsack on his back, and a sword at his side; he had been to the wars, and was now returning home.

As he walked on, he met a very frightful-looking old witch in the road. Her under-lip hung quite down on her breast, and she stopped and said, “Good evening, soldier; you have a very fine sword, and a large knapsack, and you are a real soldier; so you shall have as much money as ever you like.”

“Thank you, old witch,” said the soldier.

“Do you see that large tree,” said the witch, pointing to a tree which stood beside them. “Well, it is quite hollow inside, and you must climb to the top, when you will see a hole, through which you can let yourself down into the tree to a great depth. I will tie a rope round your body, so that I can pull you up again when you call out to me.”

“But what am I to do, down there in the tree?” asked the soldier.

“Get money,” she replied; “for you must know that when you reach the ground under the tree, you will find yourself in a large hall, lighted up by three hundred lamps; you will then see three doors, which can be easily opened, for the keys are in all the locks. On entering the first of the chambers, to which these doors lead, you will see a large chest, standing in the middle of the floor, and upon it a dog seated, with a pair of eyes as large as teacups. But you need not be at all afraid of him; I will give you my blue checked apron, which you must spread upon the floor, and then boldly seize hold of the dog, and place him upon it. You can then open the chest, and take from it as many pence as you please, they are only copper pence; but if you would rather have silver money, you must go into the second chamber. Here you will find another dog, with eyes as big as mill-wheels; but do not let that trouble you. Place him upon my apron, and then take what money you please. If, however, you like gold best, enter the third chamber, where there is another chest full of it. The dog who sits on this chest is very dreadful; his eyes are as big as a tower, but do not mind him. If he also is placed upon my apron, he cannot hurt you, and you may take from the chest what gold you will.”

“This is not a bad story,” said the soldier; “but what am I to give you, you old witch? for, of course, you do not mean to tell me all this for nothing.”

“No,” said the witch; “but I do not ask for a single penny. Only promise to bring me an old tinder-box, which my grandmother left behind the last time she went down there.”

“Very well; I promise. Now tie the rope round my body.”

“Here it is,” replied the witch; “and here is my blue checked apron.”

As soon as the rope was tied, the soldier climbed up the tree, and let himself down through the hollow to the ground beneath; and here he found, as the witch had told him, a large hall, in which many hundred lamps were all burning. Then he opened the first door. “Ah!” there sat the dog, with the eyes as large as teacups, staring at him.

“You’re a pretty fellow,” said the soldier, seizing him, and placing him on the witch’s apron, while he filled his pockets from the chest with as many pieces as they would hold. Then he closed the lid, seated the dog upon it again, and walked into another chamber, And, sure enough, there sat the dog with eyes as big as mill-wheels.

“You had better not look at me in that way,” said the soldier; “you will make your eyes water;” and then he seated him also upon the apron, and opened the chest. But when he saw what a quantity of silver money it contained, he very quickly threw away all the coppers he had taken, and filled his pockets and his knapsack with nothing but silver.

Then he went into the third room, and there the dog was really hideous; his eyes were, truly, as big as towers, and they turned round and round in his head like wheels.

“Good morning,” said the soldier, touching his cap, for he had never seen such a dog in his life. But after looking at him more closely, he thought he had been civil enough, so he placed him on the floor, and opened the chest. Good gracious, what a quantity of gold there was! enough to buy all the sugar-sticks of the sweet-stuff women; all the tin soldiers, whips, and rocking-horses in the world, or even the whole town itself There was, indeed, an immense quantity. So the soldier now threw away all the silver money he had taken, and filled his pockets and his knapsack with gold instead; and not only his pockets and his knapsack, but even his cap and boots, so that he could scarcely walk.

He was really rich now; so he replaced the dog on the chest, closed the door, and called up through the tree, “Now pull me out, you old witch.”

“Have you got the tinder-box?” asked the witch.

“No; I declare I quite forgot it.” So he went back and fetched the tinderbox, and then the witch drew him up out of the tree, and he stood again in the high road, with his pockets, his knapsack, his cap, and his boots full of gold.

“What are you going to do with the tinder-box?” asked the soldier.

“That is nothing to you,” replied the witch; “you have the money, now give me the tinder-box.”

“I tell you what,” said the soldier, “if you don’t tell me what you are going to do with it, I will draw my sword and cut off your head.”

“No,” said the witch.

The soldier immediately cut off her head, and there she lay on the ground. Then he tied up all his money in her apron. and slung it on his back like a bundle, put the tinderbox in his pocket, and walked off to the nearest town. It was a very nice town, and he put up at the best inn, and ordered a dinner of all his favorite dishes, for now he was rich and had plenty of money.

The servant, who cleaned his boots, thought they certainly were a shabby pair to be worn by such a rich gentleman, for he had not yet bought any new ones. The next day, however, he procured some good clothes and proper boots, so that our soldier soon became known as a fine gentleman, and the people visited him, and told him all the wonders that were to be seen in the town, and of the king’s beautiful daughter, the princess.

“Where can I see her?” asked the soldier.

“She is not to be seen at all,” they said; “she lives in a large copper castle, surrounded by walls and towers. No one but the king himself can pass in or out, for there has been a prophecy that she will marry a common soldier, and the king cannot bear to think of such a marriage.”

“I should like very much to see her,” thought the soldier; but he could not obtain permission to do so. However, he passed a very pleasant time; went to the theatre, drove in the king’s garden, and gave a great deal of money to the poor, which was very good of him; he remembered what it had been in olden times to be without a shilling. Now he was rich, had fine clothes, and many friends, who all declared he was a fine fellow and a real gentleman, and all this gratified him exceedingly. But his money would not last forever; and as he spent and gave away a great deal daily, and received none, he found himself at last with only two shillings left. So he was obliged to leave his elegant rooms, and live in a little garret under the roof, where he had to clean his own boots, and even mend them with a large needle. None of his friends came to see him, there were too many stairs to mount up. One dark evening, he had not even a penny to buy a candle; then all at once he remembered that there was a piece of candle stuck in the tinder-box, which he had brought from the old tree, into which the witch had helped him.

He found the tinder-box, but no sooner had he struck a few sparks from the flint and steel, than the door flew open and the dog with eyes as big as teacups, whom he had seen while down in the tree, stood before him, and said, “What orders, master?”

“Hallo,” said the soldier; “well this is a pleasant tinderbox, if it brings me all I wish for.”

“Bring me some money,” said he to the dog.

He was gone in a moment, and presently returned, carrying a large bag of coppers in his month. The soldier very soon discovered after this the value of the tinder-box. If he struck the flint once, the dog who sat on the chest of copper money made his appearance; if twice, the dog came from the chest of silver; and if three times, the dog with eyes like towers, who watched over the gold. The soldier had now plenty of money; he returned to his elegant rooms, and reappeared in his fine clothes, so that his friends knew him again directly, and made as much of him as before.

After a while he began to think it was very strange that no one could get a look at the princess. “Every one says she is very beautiful,” thought he to himself; “but what is the use of that if she is to be shut up in a copper castle surrounded by so many towers. Can I by any means get to see her. Stop! where is my tinder-box?” Then he struck a light, and in a moment the dog, with eyes as big as teacups, stood before him.

“It is midnight,” said the soldier, “yet I should very much like to see the princess, if only for a moment.”

The dog disappeared instantly, and before the soldier could even look round, he returned with the princess. She was lying on the dog’s back asleep, and looked so lovely, that every one who saw her would know she was a real princess. The soldier could not help kissing her, true soldier as he was. Then the dog ran back with the princess; but in the morning, while at breakfast with the king and queen, she told them what a singular dream she had had during the night, of a dog and a soldier, that she had ridden on the dog’s back, and been kissed by the soldier.

“That is a very pretty story, indeed,” said the queen. So the next night one of the old ladies of the court was set to watch by the princess’s bed, to discover whether it really was a dream, or what else it might be.

The soldier longed very much to see the princess once more, so he sent for the dog again in the night to fetch her, and to run with her as fast as ever he could. But the old lady put on water boots, and ran after him as quickly as he did, and found that he carried the princess into a large house. She thought it would help her to remember the place if she made a large cross on the door with a piece of chalk. Then she went home to bed, and the dog presently returned with the princess. But when he saw that a cross had been made on the door of the house, where the soldier lived, he took another piece of chalk and made crosses on all the doors in the town, so that the lady-in-waiting might not be able to find out the right door.

Early the next morning the king and queen accompanied the lady and all the officers of the household, to see where the princess had been.

“Here it is,” said the king, when they came to the first door with a cross on it.

“No, my dear husband, it must be that one,” said the queen, pointing to a second door having a cross also.

“And here is one, and there is another!” they all exclaimed; for there were crosses on all the doors in every direction.

So they felt it would be useless to search any farther. But the queen was a very clever woman; she could do a great deal more than merely ride in a carriage. She took her large gold scissors, cut a piece of silk into squares, and made a neat little bag. This bag she filled with buckwheat flour, and tied it round the princess’s neck; and then she cut a small hole in the bag, so that the flour might be scattered on the ground as the princess went along. During the night, the dog came again and carried the princess on his back, and ran with her to the soldier, who loved her very much, and wished that he had been a prince, so that he might have her for a wife. The dog did not observe how the flour ran out of the bag all the way from the castle wall to the soldier’s house, and even up to the window, where he had climbed with the princess. Therefore in the morning the king and queen found out where their daughter had been, and the soldier was taken up and put in prison. Oh, how dark and disagreeable it was as he sat there, and the people said to him, “To-morrow you will be hanged.” It was not very pleasant news, and besides, he had left the tinder-box at the inn. In the morning he could see through the iron grating of the little window how the people were hastening out of the town to see him hanged; he heard the drums beating, and saw the soldiers marching. Every one ran out to look at them. and a shoemaker’s boy, with a leather apron and slippers on, galloped by so fast, that one of his slippers flew off and struck against the wall where the soldier sat looking through the iron grating. “Hallo, you shoemaker’s boy, you need not be in such a hurry,” cried the soldier to him. “There will be nothing to see till I come; but if you will run to the house where I have been living, and bring me my tinder-box, you shall have four shillings, but you must put your best foot foremost.”

The shoemaker’s boy liked the idea of getting the four shillings, so he ran very fast and fetched the tinder-box, and gave it to the soldier. And now we shall see what happened. Outside the town a large gibbet had been erected, round which stood the soldiers and several thousands of people. The king and the queen sat on splendid thrones opposite to the judges and the whole council. The soldier already stood on the ladder; but as they were about to place the rope around his neck, he said that an innocent request was often granted to a poor criminal before he suffered death. He wished very much to smoke a pipe, as it would be the last pipe he should ever smoke in the world. The king could not refuse this request, so the soldier took his tinder-box, and struck fire, once, twice, thrice,— and there in a moment stood all the dogs;—the one with eyes as big as teacups, the one with eyes as large as mill-wheels, and the third, whose eyes were like towers. “Help me now, that I may not be hanged,” cried the soldier.

And the dogs fell upon the judges and all the councillors; seized one by the legs, and another by the nose, and tossed them many feet high in the air, so that they fell down and were dashed to pieces.

“I will not be touched,” said the king. But the largest dog seized him, as well as the queen, and threw them after the others. Then the soldiers and all the people were afraid, and cried, “Good soldier, you shall be our king, and you shall marry the beautiful princess.”

So they placed the soldier in the king’s carriage, and the three dogs ran on in front and cried “Hurrah!” and the little boys whistled through their fingers, and the soldiers presented arms. The princess came out of the copper castle, and became queen, which was very pleasing to her. The wedding festivities lasted a whole week, and the dogs sat at the table, and stared with all their eyes.

Mempunyai hobi musik tidak lengkap rasanya kalau belum bisa memainkan alat musik seperti gitar yang terkenal yang dapat dijadikan teman pengiring semua jenis lagu yang ada di seluruh dunia dan akherat. Belajar bermain gitar awalnya memang sulit dan terkadang membuat stres orang yang mempelajarinya.

Untuk belajar bass sebaiknya anda belajar gitar terlebih dahulu, karea orang yang dapat bermain gitar otomatis bisa bermain bass, namun jika anda bisa bermain bass tidak otomatis bisa gitar. Kunci dan nada pada bass gitar tidak jauh berbeda pada gitar, sehingga ada baiknya jika anda belajar kunci dasar gitar dahulu. Selain itu anda bisa menghemat uang, karena tidak perlu membeli bass, tetapi cukup gitar kopong yang murah saja sudah cukup.

Untuk bermain gitar anda harus siap merasa agak sakit pada ujung jari kiri anda, karena akan digunakan untuk menekan senar untuk membuat formasi kunci gitar. Terkadang harus membuat ujung jari kita menjadi kapalan maupun melendung baik jari di tangan kiri maupun kanan. Untuk mendapatkan sesuatu anda memang harus mengorbankan sesuatu, itu adalah hukum kimia dan ekonomi yang wajar dan normal.

Jika anda berencana untuk kursus sebaiknya anda jangan ikut kursus sebelum menguasai tehnik dasar tempo lagu, kunci dasar gitar dan kocokan gonjreng pada gitar. Jika anda belum menguasai hal itu anda hanya akan memperlama masa kursus anda yang akan menghabiskan uang.

Untuk menghemat biaya anda bisa belajar pada teman, saudara atau tetangga yang anda kenal baik dan bisa barmain gitar. Jika tidak ada yang bisa bermain gitar maka anda harus belajar otodidak alias belajar sendiri.

Yang diperlukan untuk belajar gitar dasar sendirian :
– Gitar apa saja boleh kopong dan boleh lisrik
– Buku atau majalah lagu-lagu yang ada kunci gitarnya beserta petunjuk kunci gitar
– Kaset, CD atau MP3 lagu yang ada di buku lagu
– Kemampuan stem atau menyetem gitar

Untuk memulai latihan anda harus menyetem gitar anda terlebih dahulu agar suara 6 senar gitar bisa harmonis dan tepat. Jika tidak distem maka anda tidak akan bisa belajar, karena suaranya tidak mungkin pas. Untuk stem gitar anda bisa minta tolong orang lain atau stem sendiri dengan insting. Untuk masalah stem gitar anda bisa mencari buku panduan bermain gitar di toko buku.

Jika anda mau stem sendiri, maka caranya adalah dengan menyamakan fret ke 5 suatu senar dengan satu senar setingkat di bawahnya pada fret 0. Kecuali pada senar ketiga dari bawah yang barus distem pada fret ke 4 dengan fret 0 di senar kedua dari bawah. Anda harus menggunakan filing anda apakah suara suatu fret dengan fret di bawahnya sudah sama suaranya. Jika tidak sama putar-putar pengendali tegangan senar pada ujung gitar sampai pas.

Jika sudah OK, maka selanjutnya anda tinggal mencoba gonjreng pada kunci standar sampai jari anda anda terbiasa dengan posisi masing-masing kunci. Kemudian coba buka buku lagu-lagu yang ada kunci gitarnya, lalu coba ikuti perubahan dari kunci ke kunci dengan tempo yang sesuai dengan aslinya sebisa mungkin berdasarkan filing anda.

Jika sudah bisa maka anda bisa mencoba bermain bareng dengan suara kaset atau lagu yang sebenarnya. Namun syaratnya adalah steman pada gitar anda sesuai dengan steman yang ada di kaset dan kunci lagu yang ada di buku atau majalah juga benar sesuai dengan yang di kaset dan gitar anda.

Jika anda sudah agak lancar anda bisa melanjutkan ke kursus atau inovasi sendiri belajar hal-hal lainnya dari buku mapun kenalan anda. Jika sudah menguasai anda bisa membentuk grup band anda sendiri bersama orang lain yang bisa memainkan alat musik lainnya. Selamat belajar dan semoga berhasil 🙂

– Gitar apa saja boleh kopong dan boleh listrik.
– Buku atau majalah lagu-lagu yang ada kunci gitarnya beserta petunjuk kunci gitar.
– Kaset, CD atau MP3 lagu yang ada di buku lagu.
– Kemampuan stem atau menyetem gitar Untuk memulai latihan loe harus menyetem gitar terlebih dahulu agar suara 6 senar gitar bisa harmonis dan tepat. Jika tidak distem maka loe tidak akan bisa belajar, karena suaranya tidak mungkin pas.

Untuk stem gitar mungkin bisa minta tolong orang lain atau stem sendiri dengan insting, dengan mencari buku panduan bermain gitar di toko buku. Jika loe ingin mencoba stem gitar sendiri, maka caranya adalah dengan menyamakan fret ke 5 suatu senar dengan satu senar setingkat di bawahnya pada fret 0. Kecuali pada senar ketiga dari bawah yang harus distem pada fret ke 4 dengan fret 0 di senar kedua dari bawah.

Loe harus menggunakan feeling, apakah suara suatu fret dengan fret di bawahnya sudah sama suaranya. Jika tidak sama putar-putar pengendali tegangan senar pada ujung gitar sampai pas. Jika sudah OK, maka selanjutnya loe tinggal mencoba genjreng pada kunci standar sampai jari-jari loe terbiasa dengan posisi masing-masing kunci.
Kemudian coba buka buku lagu-lagu yang ada kunci gitarnya, lalu coba ikuti perubahan dari kunci ke kunci dengan tempo yang sesuai dengan aslinya sebisa mungkin berdasarkan feeling loe. Jika sudah bisa, maka loe bisa mencoba bermain bareng dengan suara kaset atau lagu yang sebenarnya.

Namun syaratnya adalah steman pada gitar loe haruslah sesuai dengan steman yang ada di kaset dan kunci lagu yang ada di buku atau majalah, Jika loe sudah agak lancar…Nah, baru deh melanjutkan ke kursus atau belajar hal-hal lainnya dari buku maupun kenalan loe.

Jika kita bertanya tentang siapa pembuat pertama kali bass elektrik, pasti kebanyakan orang atau musisi akan menjawab Leo Fender. bagaimana pun telah ada 5 jenis prototype yang belum begitu di ketahui, namun merupakan design awal dari bass elektrik yang di ciptakan sebelum fender memperkenalkan bass precisionnya di tahun 1951 kepada dunia.

Bass modern merupakan turunan langsung dari double bass, yang mana telah ada pada abad ke-17. Bagaimanapun designnya tetap sama sampai ke abad 20 yang merubah design bass menjadi lebih simpel dan praktis.

Di tahun 1920an, adalah lloyd Loar, yang berkerja untuk gibson, mendesign double bass elektrik pertama. Bass itu menggunakan pickup electro-static, tapi amply untuk frekuensi bass belum dikembangkan. jadi pada saat itu belum ada cara untuk mendengarkan instrument double bass tersebut. Awal tahun 1930an, paul tutmarc menjadi orang pertama yang memperbaiki ukuran double bass menjadi lebih praktis. Ukuran yang pertama dibuat hanya sebesar cello, dan mengunakan pickup rudimentary,
namun hasilnya memiliki berat yang berlebihan, dan akhirnya diperbaiki bentuknya lebih menyerupai gitar. Bass baru yang diciptakan ini memiliki panjang 42″, solid body, menggunakan kayu walnut hitam dan senar piano yang tetap dilengkapi dengan pickup.

Sementara besarnya suara gitar akustik bergantung pada getaran bodinya yang diperlengkapi dengan ruang udara, besarnya suara sebuah gitar listrik bergantung pada induksi sinyal listrik magnetik yang ditimbulkan oleh senar logam yang dekat ke pickup. Signal tersebut dibentuk dalam alurnya menuju ke sebuah aplifiermenggunakan seperangkat sound effect untuk memodifikasi nada dan karakteristik signal. Sirkuit pembentukan suara yang paling umum adalah berupa kontrol volume, gain dan tone dan saklar pickup selektor yang ditemui hampir di semua jenis gitar listrik. Tahun 1960 beberapa gitaris mulai mengeksplorasi sebuah cakupan yang lebih luas dalam efek penadaan dengan mendistorsikan suara, dengan menambahkan gain dan volume dari preamplifier yang menghasilkan suara yang samar (fuzzy). Efek ini disebut “clipping” oleh ahli suara karena ketika ditampilkan dengan osiloskop, bentuk gelombang signal yang didistorsi terlihat terpotong pada puncaknya. Ini bukan sebuah perkembangan baru pada instrumen, tapi menghadirkan sedikit pergeseran dalam estetika. Tahun 1960 warna-warna penadaan pada gitar listrik selanjutnya dimodifikasi dengan mengenalkan sebuah effect box dalam alur signal, dibangun dalam sebuah casis logam dengan saklar on/of dengan kaki. Sepertinya stomp box telah menjadi bagian penting dalam banyak genre musik. Secara tipikal sound efek meliputi stereo chorus, fuzz, wah-wah, flanging, compression/ sustain, delay, reverb dan phase shift. Tidak semua gitar efek berupa elektrnik tahun 1967, Jimmy Page dari The Yardbird dan Led Zepelin menciptakan psychedelic sound effect dengan memainkan gitar dengan sebuah penggesek biola dan memukul senar dengan penggesek tersebut. Tahun 1980 dan 1990, effect digital dan sotware effect mulai bisa mereplikasi effect analog. Efect digital ini mencoba suara yang dihasilkan effect analog dengan untuk memvariasikan derajat kualitasnya. Begitu banyak program komputer untuk efect gitar bisa didownloud secara gratis via internet. Sekarang dengan memakai sebuah soundcard sebuah komputer bisa digunakan sebagai sebuah effect gitar digital. Tapi walau effect digital dan software effect banyak memberi keuntungan, banyak gitaris masih memakai effect analog.

Gitar bass elektrik (biasa disebut Bass elektrik atau bass saja) adalah alat musik dawai yang menggunakan listrik untuk memperbesar suaranya. Penampilannya mirip dengan gitar listrik tapi ia memiliki tubuh yang lebih besar, leher yang lebih panjang, dan biasanya memiliki empat senar (dibandingkan dengan gitar yang memiliki enam senar).

Bobot dari bass sendiri idealnya lebih berat daripada gitar listrik biasa, karena senarnya yang lebih tebal (untuk menjaga kerendahan nada/bunyi) sehingga menyebabkan harus memilih kayu yang lebih padat dan keras untuk menyeimbangi tekanan pada neck (leher gitar).

Selain itu ukuran fret (kolom pada gitar) yang lebih besar yang disesuaikan dengan panjang senar (scale).

Ada banyak jenis bass yang dipakai sampai dengan saat ini. Yang paling banyak dipakai berupa contra bass dan cello bass (yang biasa digunakan untuk pertunjukan opera), bass listrik (biasa digunakan untuk semua jenis pertunjukan terutama band) serta bass fretless yang sama dengan bass listrik tapi tidak ada fret (kolom/pembatas pada papan tekan/neck) pada bass tersebut. Prinsip kerja bass fretless mirip dengan contra/cello bass hanya saja berbentuk gitar listrik.

Beragam contoh plektrum

Plektrum adalah sepotong kecil material keras yang umumnya dipegang dengan jempol dan telunjuk dan digunakan untuk memetik dan membunyikan senar. Plektrum secara umum lebih sering digunakan untuk permainan gitar elektrik. Walaupun bahan utama pembuat plektrum adalah plastik, terdapat pula plektrum dari bahan lain, seperti tulang, kayu, logam, ataupun tempurung kura-kura. Tempurung kura-kura adalah bahan yang paling sering digunakan pada era awal pembuatan plektrum. Tetapi seiring dengan kura-kura yang terancam punah dan menjadi hewan dilindungi, tempurung kura-kura tidak lagi digunakan sebagai bahan pembuat plektrum.

Bentuk dan ukuran plektrum sangatlah beragam. Ukuran plektrum bervariasi mulai dari plektrum kecil untuk jazz hingga plektrum besar untuk bass. Ketebalan plektrum juga memengaruhi penggunaannya. Plektrum yang lebih tipis (antara 0,2 sampai 0,5 mm) biasanya digunakan untuk permainan rhythm, sedangkan plektrum yang lebih tebal (antara 0,7 hingga 1,5+ mm) biasanya digunakan untuk permainan melodi.

Suara gitar khas ala Billy Gibbons disebut-sebut dikarenakan ia menggunakan koin Amerika atau koin Meksiko sebagai plektrum. Hal serupa terjadi pada Brian May yang menggunakan koin Inggris sebagai plektrum. Lain halnya dengan David Persons yang dikenal menggunakan plektrum dari kartu kredit usang yang dipotong dengan ukuran yang tepat.

Gitar akustik memiliki bagian badan yang berlubang (hollow body) dan dapat menghasilkan suara yang relatif cukup keras tanpa penguatan elektrik. Bunyi dari gitar akustik dihasilkan dari getaran senar yang kemudian diperkuat oleh badan gitar yang bertindak sebagai tabung resonansi.

Terdapat beberapa subkategori dari pengelompokan gitar akustik, diantaranya:

* Gitar senar-nilon, termasuk gitar klasik dan gitar flamenco
* Gitar senar-baja, termasuk gitar puncak-datar dan gitar folk
* Gitar archtop
* Gitar senar-duabelas

Pengelompokan gitar akustik juga memasukkan gitar akustik yang memiliki tingkatan jangkauan nada yang berbeda, seperti gitar bass akustik yang memiliki setem yang sama dengan gitar bass elektrik.

Iklan